Pagi ini buta tak bermata. Sepi dan sunyi tiada
bunyi lagi. Malam terbenam kelam
dihimpit sang cekam. Dingin mulai memilin tulang-tulang batin. Engkau hadir,
Dik. Tanpa salam. Tanpa ketukan. Datang dan tiba begitu saja pada puing-puing
ingatan yang tersisa. Heran. Padahal aku telah mengusirmu seperti nyamuk-nyamuk
sialan itu. Dasar ndablek, engkau tak
bergeming layaknya sosok sebuah arca. Memang, kesepianku melebihi heningnya sebuah
candi yang dipuja di tengah kesenyapan malam tak berbulan tak berbintang.
Seperti malam ini, Dik. Untuk apa engkau hadir? Engkau takkan mampu meriuhkan
sunyiku. Engkau takkan mampu menghangatkan dinginku. Bahkan engkau takkan mampu
menyentuh pelataran hatiku yang dipenuhi dengan ribuan rahasia dan jebakan-jebakan
air mata.
Lihat, Dik! Teman-temanku tak pernah dihinggapi
masalah. Setiap jengkal hari,
mereka menari, bernyanyi, bermain, tertawa, menangis, terkekeh. Tanpa dosa.
Tanpa beban. Namun aku tak mampu melakukannya pada diriku sendiri. Aku lebih memilih diam. Diam di tempat. Tidak siang, tidak malam. Aku bungkam.
Di tempat ini aku tenang, Dik. Di sini aku senang.
Tak ada mulut yang berperang. Tak ada jiwa yang dikekang. Tak ada hati yang
dibuang. Seperti dulu engkau membuang hatiku ke tempat sampah di pojok jalan.
Kemudian dicabik-cabik oleh sekawanan binatang jalanan hingga akhirnya hanya
menjadi seonggok kotoran anjing yang hangat di hamparan rumput taman yang
dibasahi embun di waktu pagi. Menjijikkan.
Dik, saat pertama kita bertemu. Begitu-begitu saja.
Ketika kita dekat hingga menjadi sangat dekat. Ya, begitu-begitu saja. Bahkan,
manakala engkau meninggalkanku untuk dirinya tercinta. Tetap begitu-begitu
saja. Entah akan berakhir kapan. Di benakmu, aku mungkin hanyalah sebuah
bayangan dari ingatan yang tak bertuan. Bagimu, mungkin aku hanyalah sebuah
batu loncatan menuju megahnya sebuah impian. Tetapi ini bukan sebuah permainan.
Ini juga bukan merupakan suatu penindasan. Ini hanyalah sebuah kesalahan. Untuk
itu, kini aku rela menebusnya dengan rangkaian hukuman.
Dik, pulanglah. Dua sosok berpakaian putih-putih
telah melihatku. Sedari tadi mengawasi gerakku. Dan kini perlahan menuju ke
arahku. Pulanglah, Dik. Salamkan aku untuk kekasihmu.
“Mas, jangan melamun terus. Lebih baik tidur. Sebentar lagi azan subuh.”
Mereka menegurku, Dik. Oh, engkau telah pergi
rupanya. Tapi, sepasang kupingku masih sempat mendengar mereka membicarakanku
di lorong jalan.
“Dok, sebenarnya bagaimana keadaan Mas Dimas?
Kurasa dia tidak gila, Dok.”
“Mungkin. Mungkin dialah pasien yang paling waras
di Rumah Sakit Jiwa ini.”
Aku tetap diam. Bungkam. Lampu kamar pun padam. Mata mulai kupejam. Ingatan mulai kupendam.
Entahlah, aku rasa tak ada yang berubah. Ya, begitu-begitu saja. Tetap begitu-begitu saja.
Kota Malang, 2001












0 comments:
Post a Comment