Thursday, July 19, 2012

Begitu Saja

Pagi ini buta tak bermata. Sepi dan sunyi tiada bunyi lagi. Malam  terbenam kelam dihimpit sang cekam. Dingin mulai memilin tulang-tulang batin. Engkau hadir, Dik. Tanpa salam. Tanpa ketukan. Datang dan tiba begitu saja pada puing-puing ingatan yang tersisa. Heran. Padahal aku telah mengusirmu seperti nyamuk-nyamuk sialan itu. Dasar ndablek, engkau tak bergeming layaknya sosok sebuah arca. Memang, kesepianku melebihi heningnya sebuah candi yang dipuja di tengah kesenyapan malam tak berbulan tak berbintang. 

Seperti malam ini, Dik. Untuk apa engkau hadir? Engkau takkan mampu meriuhkan sunyiku. Engkau takkan mampu menghangatkan dinginku. Bahkan engkau takkan mampu menyentuh pelataran hatiku yang dipenuhi dengan ribuan rahasia dan jebakan-jebakan air mata.

Lihat, Dik! Teman-temanku tak pernah dihinggapi masalah. Setiap jengkal hari, mereka menari, bernyanyi, bermain, tertawa, menangis, terkekeh. Tanpa dosa. Tanpa beban. Namun aku tak mampu melakukannya pada diriku sendiri. Aku lebih memilih diam. Diam di tempat. Tidak siang, tidak malam. Aku bungkam.

Di tempat ini aku tenang, Dik. Di sini aku senang. Tak ada mulut yang berperang. Tak ada jiwa yang dikekang. Tak ada hati yang dibuang. Seperti dulu engkau membuang hatiku ke tempat sampah di pojok jalan. Kemudian dicabik-cabik oleh sekawanan binatang jalanan hingga akhirnya hanya menjadi seonggok kotoran anjing yang hangat di hamparan rumput taman yang dibasahi embun di waktu pagi. Menjijikkan.

Dik, saat pertama kita bertemu. Begitu-begitu saja. Ketika kita dekat hingga menjadi sangat dekat. Ya, begitu-begitu saja. Bahkan, manakala engkau meninggalkanku untuk dirinya tercinta. Tetap begitu-begitu saja. Entah akan berakhir kapan. Di benakmu, aku mungkin hanyalah sebuah bayangan dari ingatan yang tak bertuan. Bagimu, mungkin aku hanyalah sebuah batu loncatan menuju megahnya sebuah impian. Tetapi ini bukan sebuah permainan. Ini juga bukan merupakan suatu penindasan. Ini hanyalah sebuah kesalahan. Untuk itu, kini aku rela menebusnya dengan rangkaian hukuman.

Dik, pulanglah. Dua sosok berpakaian putih-putih telah melihatku. Sedari tadi mengawasi gerakku. Dan kini perlahan menuju ke arahku. Pulanglah, Dik. Salamkan aku untuk kekasihmu.

Mas, jangan melamun terus. Lebih baik tidur. Sebentar lagi azan subuh.”

Mereka menegurku, Dik. Oh, engkau telah pergi rupanya. Tapi, sepasang kupingku masih sempat mendengar mereka membicarakanku di lorong jalan.

Dok, sebenarnya bagaimana keadaan Mas Dimas? Kurasa dia tidak gila, Dok.
Mungkin. Mungkin dialah pasien yang paling waras di Rumah Sakit Jiwa ini.

Aku tetap diam. Bungkam. Lampu kamar pun padam. Mata mulai kupejam. Ingatan mulai kupendam. Entahlah, aku rasa tak ada yang berubah. Ya, begitu-begitu saja. Tetap begitu-begitu saja.

Kota Malang, 2001 

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...