Friday, July 20, 2012

Seperti Kemarin

“Pak, pagi ini cuaca sedikit mendung. Gelombang awan kelabu bergerak tak beraturan. Seolah memberiku kekuatan untuk kembali murung. Sepoian angin pagi ini menyuntikku dengan hawa nan segar. Padahal aku belum mandi. Di antara jutaan manusia  yang berkubang dengan kesibukan duniawinya. Di antara geliat rutinitas hari yang tak kunjung pernah usai. Aku mampir lagi, Pak. Kesini ini. Ke tempat Bapak. Seperti hari kemarin. Juga kemarin dari kemarin-kemarinnya."


“Bagaimana keadaan Bapak sekarang? Agak baikan? Nyenyak tidurnya? Bapak memang butuh istirahat yang panjang dan tidak usah memikirkan kondisi keluarga kita dulu. Semuanya dalam keadaan sehat-sehat saja kok. Ibu kini kembali jualan makanan di rumah. Ya, daripada nganggur katanya. Hendro dan keluarganya juga sehat wal’afiat, kok. Cucu Bapak sekarang sudah besar dan sebentar lagi masuk sekolah SMP. Si Kholil malah minta berhenti sekolah. Katanya sih mau kerja saja untuk membantu Ibu. Ah, mereka memang adik-adik yang bertanggungjawab dan sangat mencintai keluarga. Saya juga mencintai mereka seperti halnya Bapak. O iya ada salam dari Mas Purwanto sekeluarga di Pasuruan.”

“Saya? Ya, tetap begitu-begitu saja. Sama seperti kemarin. Juga kemarin dari kemarinnya. Saya masih ingin mengabdikan seluruh ilmu yang kumiliki untuk masyarakat. Untuk mereka yang membutuhkan. Saya memang bukan Pejuang Islam seperti Bapak. Tetapi fungsi kita nyaris sama saja, toh. Sama-sama berupaya menolong orang lain dengan segenap kemampuan. Sama-sama terpandang. Sama-sama dicintai orang. Bedanya mungkin pada hulunya saja, namun pada akhirnya sama-sama bersua di hilir. Tugas kita jelas berbeda, Pak. Tapi tujuan kita Insya Allah sama saja. Jadi, tak usah Bapak permasalahkan lagi hal itu.”

“Hmm, sebenarnya  ada sesuatu yang ingin saya sampaikan ke Bapak. Sesuatu yang selama ini Bapak inginkan. Bapak tunggu-tunggu. Meski mungkin hal ini agak terlambat. Tapi tidak ada salahnya saya menyampaikannya langsung kepada Bapak. Toh, Bapak ‘kan masih kepala keluarga kita. Begini, Pak. Anakmu ini, memohon restu untuk menikah bulan depan. Saya sudah bosan sendirian, Pak. Saya membutuhkan tulang rusuk kiri yang dekat dengan hati untuk saya cintai sepenuh jiwa dan dekat dengan lengan untuk saya lindungi sepanjang hayat."

"Saya tahu Bapak tak pernah mempermasalahkan siapa calon saya dari dulu. Dari sejak saya meninggalkan Kalimantan guna menimba ilmu di pulau Jawa. Meski dari Bapak saya memiliki darah Mandar, darah seorang pemberani sejati, tetapi dari Ibu saya juga ‘kan berdarah Jawa, darah dari keturunan bangsawan dan orang-orang sakti di jamannya. Dan akhirnya ditakdirkan lahir dan besar di kalimantan ini.”

“Sekali lagi, putra kebanggaan Bapak ini mohon restu dan petunjuk dari Bapak. Mungkin Ibu belum sempat kesini, tetapi saya yakin tadi malam dia sudah menyampaikannya langsung kepada Bapak kalau hari ini keluarga kita akan melamar calon saya. Jelas, saya menyayangi Bapak, yang rela menaklukkan ganasnya badai dan gelombang lautan dengan kulit menghitam dan badan tak terurus hanya untuk memberiku biaya semasa kuliah dan semoga dia juga seperti itu terhadap Bapak." 

"Saya berangkat dulu, Pak. Mudah-mudahan lamaran kita diterima dengan baik. Amin. Bapak tak perlu repot-repot mendoakan saya. Biar saya saja yang berdoa untuk Bapak.”
Lalu laki-laki berbaju hitam itu duduk bersila. Membaca surah Yasin penuh khusuk. Tak peduli rintikan gerimis yang mulai ditumpahkan dari langit. Tak peduli tiupan angin laut yang mulai menampar wajahnya yang dilumuri kesedihan. Khusuk. Seolah apapun gangguan alam sekitarnya tak mampu merubah ikatan sang anak dengan Bapaknya. Setelah selesai, ia mencium pusara Bapaknya dan mengucap salam. Lalu pergi begitu saja. Seperti kemarin. Juga kemarin dari kemarin-kemarinnya.

Kota Malang, 15 Feb 2001

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...