“Pak, pagi
ini cuaca sedikit mendung. Gelombang awan kelabu bergerak tak beraturan. Seolah
memberiku kekuatan untuk kembali murung. Sepoian angin pagi ini menyuntikku
dengan hawa nan segar. Padahal aku belum mandi. Di antara jutaan manusia yang berkubang dengan kesibukan duniawinya.
Di antara geliat rutinitas hari yang tak kunjung pernah usai. Aku mampir lagi,
Pak. Kesini ini. Ke tempat
Bapak. Seperti hari kemarin. Juga kemarin dari kemarin-kemarinnya."
“Bagaimana keadaan Bapak sekarang? Agak baikan?
Nyenyak tidurnya? Bapak memang butuh istirahat yang panjang dan tidak usah
memikirkan kondisi keluarga kita dulu. Semuanya dalam keadaan sehat-sehat saja
kok. Ibu kini kembali jualan makanan di rumah. Ya, daripada nganggur katanya.
Hendro dan keluarganya juga sehat wal’afiat, kok. Cucu Bapak sekarang sudah
besar dan sebentar lagi masuk sekolah SMP. Si Kholil malah minta berhenti
sekolah. Katanya sih mau kerja saja untuk membantu Ibu. Ah, mereka memang
adik-adik yang bertanggungjawab dan sangat mencintai keluarga. Saya juga
mencintai mereka seperti halnya Bapak. O iya ada salam dari Mas Purwanto
sekeluarga di Pasuruan.”
“Saya? Ya, tetap begitu-begitu saja. Sama seperti
kemarin. Juga kemarin dari kemarinnya. Saya masih ingin mengabdikan seluruh
ilmu yang kumiliki untuk masyarakat. Untuk mereka yang membutuhkan. Saya memang
bukan Pejuang Islam seperti Bapak. Tetapi fungsi kita nyaris sama saja, toh.
Sama-sama berupaya menolong orang lain dengan segenap kemampuan. Sama-sama
terpandang. Sama-sama dicintai orang. Bedanya mungkin pada hulunya saja, namun
pada akhirnya sama-sama bersua di hilir. Tugas kita jelas berbeda, Pak. Tapi
tujuan kita Insya Allah sama saja. Jadi, tak usah Bapak
permasalahkan lagi hal itu.”
“Hmm,
sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya
sampaikan ke Bapak. Sesuatu yang selama ini Bapak inginkan. Bapak
tunggu-tunggu. Meski mungkin hal ini agak terlambat. Tapi tidak ada salahnya
saya menyampaikannya langsung kepada Bapak. Toh, Bapak ‘kan masih kepala keluarga kita. Begini, Pak.
Anakmu ini, memohon restu untuk menikah bulan depan. Saya sudah bosan
sendirian, Pak. Saya membutuhkan tulang rusuk kiri yang dekat dengan hati untuk
saya cintai sepenuh jiwa dan dekat dengan lengan untuk saya lindungi sepanjang
hayat."
"Saya tahu Bapak tak pernah mempermasalahkan siapa calon saya dari dulu.
Dari sejak saya meninggalkan Kalimantan guna
menimba ilmu di pulau Jawa. Meski dari Bapak saya memiliki darah Mandar, darah
seorang pemberani sejati, tetapi dari Ibu saya juga ‘kan berdarah Jawa, darah dari keturunan
bangsawan dan orang-orang sakti di jamannya. Dan akhirnya ditakdirkan lahir dan
besar di kalimantan ini.”
“Sekali
lagi, putra kebanggaan Bapak ini mohon restu dan petunjuk dari Bapak. Mungkin
Ibu belum sempat kesini, tetapi saya yakin tadi malam dia sudah menyampaikannya
langsung kepada Bapak kalau hari ini keluarga kita akan melamar calon saya.
Jelas, saya menyayangi Bapak, yang rela menaklukkan ganasnya badai dan
gelombang lautan dengan kulit menghitam dan badan tak terurus hanya untuk
memberiku biaya semasa kuliah dan semoga dia juga seperti itu terhadap Bapak."
"Saya berangkat dulu, Pak. Mudah-mudahan
lamaran kita diterima dengan baik. Amin. Bapak tak
perlu repot-repot mendoakan saya. Biar saya saja yang berdoa untuk Bapak.”
Lalu laki-laki berbaju hitam itu duduk bersila. Membaca surah Yasin penuh khusuk. Tak peduli
rintikan gerimis yang mulai ditumpahkan dari langit. Tak peduli tiupan angin
laut yang mulai menampar wajahnya yang dilumuri kesedihan. Khusuk. Seolah
apapun gangguan alam sekitarnya tak mampu merubah ikatan sang anak dengan
Bapaknya. Setelah selesai, ia mencium pusara Bapaknya dan mengucap salam. Lalu
pergi begitu saja. Seperti kemarin. Juga
kemarin dari kemarin-kemarinnya.
Kota Malang, 15 Feb 2001












0 comments:
Post a Comment