Friday, July 20, 2012

Jaya Pandu Syafaat

Segalanya telah berubah. Berubah total. Tidak seperti dulu lagi. Anak itu memang monster, makhluk pemakan hati manusia, mungkin pula jelmaan Bethari Durga. Sejak kemunculannya dalam lingkar kehidupan kami, entah disengaja atau tidak, ia mulai mencoba merobohkan bendera persahabatan kami yang telah bertahun kami tegakkan. 

Namanya Laila. Wajahnya cantik, meski terkadang seperti Kuntilanak jalang, di mata kedua sahabatku. Masih kuliah. Jomblo. Awalnya ia merupakan bekas pacar adik sepupu temannya teman lama kami yang telah lama berteman dengan temannya teman kami yang kami anggap seperti teman lama sendiri, kemudian ia mulai menyukai salah satu dari kami. Tetapi bukan itu masalahnya. Barangkali.

Masalahnya adalah, ia mulai menjadi momok yang mengerikan untuk ukuran seorang gadis belia. Setiap hari ia datang ke tempat kami. Mengatur-atur kami. Untung saja anak itu cantik. Layaknya seorang diktator kawakan ia mulai mengatur sumbu rotasi hidupku dan kedua sahabatku. 

Mulai dari embargo merokok, gencatan begadang, sampai pada pengebirian intensitas bobo’ siang kami. Mungkin maksudnya baik, meski sebenarnya kami bukanlah orang baik-baik. Ya, mana ada sih orang yang mengaku baik, kecuali ada udang di balik kerudung. Namun jangan ditanya seberapa tersiksanya perasaan kami. Benar-benar tersiksa. Sengsara. Terluka. Anak itu pantas dinominasikan sebagai Perempuan Bukan Biasa (bukan perempuan biasa). 

Kedua sahabatku juga tak pelak merasa tertindas lahir-batin. Banyak sudah strategi yang kami terapkan, mulai dari strategi perangnya Sun-Tzu hingga strategi pemasarannya Robert Kiyosaki, untuk melepaskan belitannya walau hanya sekejap saja. Namun hasilnya nihil. Nol besar. Belum lagi omelannya yang menyayat hati, mengiris kalbu, dan menusuk tulang. Bisingnya mengalahkan suara kapal perang. Dari dukun santet sampai dukun beranak sudah kami mintai pertolongan. Tetap saja skornya tak berubah. Sungguh ingin rasanya kami bunuh diri bareng istri tetangga saking dalamnya rasa frustasi yang sudah mencapai titik kulminasi tertinggi. 

Akhirnya kami pasrah. Tak sanggup berbuat apa-apa. Tapi kami takkan mengaku kalah. Itu adalah aib! Aib besar!!!

Tiga bulan yang lalu, setelah melewati Rapat Luar Biasa (rapat adalah aktivitas di luar kebiasaan kami) yang dihadiri oleh kami bertiga, saja, hasilnya diputuskanlah bahwa selama ini ternyata anak itu tidak hanya mengusung bencana epidemis bagi kami, tetapi juga telah memberi kontribusi yang berlipat-lipat. 

Si Pandu yang gemuk, tanpa sadar lambat laun berat badannya turun hingga 10 kilogram karena dilanda stress berat. Padahal Pandu sendiri selama diet, berat badannya bukannya malah turun justru malah tambah naik tiada terkira. Syafa’at, yang termasuk kategori mahasiswa blo’on di kampusnya, kini tergolong pandai dalam mata kuliah Manajemen Strategi, buah dari seringnya ia membaca buku-buku strategi yang dulu digunakan sebagai upaya untuk menyingkirkan kehadiran Laila.

Kini, satu tahun sudah berlalu. Kini, kami berkumpul di rumah Laila. Bersama dengan tamu-tamu yang terus mengalir deras. Kini, dengan bangga aku berdiri di sampingnya. Kini, kedua sahabatku berdiri mengapit kami. Menyalami para tamu satu persatu yang sengaja diundang dan mengucapkan kalimat yang sama. Bahkan kalau tidak salah hitung, ada empat mantan pacarku datang dan memberikan ucapan selamat (belum terhitung kekasih gelapku).

Selamat menempuh hidup baru, Mas Jaya. Semoga rumah tangganya langgeng sampai kakek nenek.”

Segalanya telah berubah. Berubah total. Tidak seperti dulu lagi. Anak itu kini menjadi istriku. Menjadi Nyonya Jaya. Menjadi kakak ipar si Pandu, juga Syafa’at. Sungguh. Kini, segalanya telah berubah. Berubah total. Tidak seperti dulu lagi. Anak itu bukanlah monster

Sori, cerita  ni bukan kisah nyata....

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...