Segalanya
telah berubah. Berubah total. Tidak seperti dulu lagi. Anak itu memang monster,
makhluk pemakan hati manusia, mungkin pula jelmaan Bethari Durga. Sejak
kemunculannya dalam lingkar kehidupan kami, entah disengaja atau tidak, ia
mulai mencoba merobohkan bendera persahabatan kami yang telah bertahun kami
tegakkan.
Namanya Laila. Wajahnya cantik, meski terkadang seperti Kuntilanak
jalang, di mata kedua sahabatku. Masih kuliah. Jomblo. Awalnya ia merupakan
bekas pacar adik sepupu temannya teman lama kami yang telah lama berteman
dengan temannya teman kami yang kami anggap seperti teman lama sendiri,
kemudian ia mulai menyukai salah satu dari kami. Tetapi bukan itu masalahnya.
Barangkali.
Masalahnya adalah, ia mulai menjadi momok yang mengerikan untuk
ukuran seorang gadis belia. Setiap hari ia datang ke tempat kami. Mengatur-atur
kami. Untung saja anak itu cantik. Layaknya seorang diktator kawakan ia mulai
mengatur sumbu rotasi hidupku dan kedua sahabatku.
Mulai dari embargo merokok,
gencatan begadang, sampai pada pengebirian intensitas bobo’ siang kami.
Mungkin maksudnya baik, meski sebenarnya kami bukanlah orang baik-baik. Ya,
mana ada sih orang yang mengaku baik, kecuali ada udang di balik kerudung.
Namun jangan ditanya seberapa tersiksanya perasaan kami. Benar-benar tersiksa.
Sengsara. Terluka. Anak itu pantas dinominasikan sebagai Perempuan Bukan Biasa
(bukan perempuan biasa).
Kedua sahabatku juga tak pelak merasa tertindas
lahir-batin. Banyak sudah strategi yang kami terapkan, mulai dari strategi
perangnya Sun-Tzu hingga strategi pemasarannya Robert Kiyosaki, untuk
melepaskan belitannya walau hanya sekejap saja. Namun hasilnya nihil. Nol
besar. Belum lagi omelannya yang menyayat hati, mengiris kalbu, dan menusuk
tulang. Bisingnya mengalahkan suara kapal perang. Dari dukun santet sampai
dukun beranak sudah kami mintai pertolongan. Tetap saja skornya tak berubah.
Sungguh ingin rasanya kami bunuh diri bareng istri tetangga saking dalamnya
rasa frustasi yang sudah mencapai titik kulminasi tertinggi.
Akhirnya kami
pasrah. Tak sanggup berbuat apa-apa. Tapi kami takkan mengaku kalah. Itu adalah
aib! Aib besar!!!
Tiga bulan yang
lalu, setelah melewati Rapat Luar Biasa (rapat adalah aktivitas di luar
kebiasaan kami) yang dihadiri oleh kami bertiga, saja, hasilnya diputuskanlah
bahwa selama ini ternyata anak itu tidak hanya mengusung bencana epidemis bagi
kami, tetapi juga telah memberi kontribusi yang berlipat-lipat.
Si Pandu yang
gemuk, tanpa sadar lambat laun berat badannya turun hingga 10 kilogram karena
dilanda stress berat. Padahal Pandu sendiri selama diet, berat badannya
bukannya malah turun justru malah tambah naik tiada terkira. Syafa’at, yang
termasuk kategori mahasiswa blo’on di kampusnya, kini tergolong pandai
dalam mata kuliah Manajemen Strategi, buah dari seringnya ia membaca buku-buku
strategi yang dulu digunakan sebagai upaya untuk menyingkirkan kehadiran Laila.
Kini, satu tahun
sudah berlalu. Kini, kami berkumpul di rumah Laila. Bersama dengan tamu-tamu
yang terus mengalir deras. Kini, dengan bangga aku berdiri di sampingnya. Kini,
kedua sahabatku berdiri mengapit kami. Menyalami para tamu satu persatu yang
sengaja diundang dan mengucapkan kalimat yang sama. Bahkan kalau tidak salah
hitung, ada empat mantan pacarku datang dan memberikan ucapan selamat (belum
terhitung kekasih gelapku).
“Selamat menempuh hidup baru, Mas Jaya. Semoga rumah tangganya
langgeng sampai kakek nenek.”
Segalanya telah
berubah. Berubah total. Tidak seperti dulu lagi. Anak itu kini menjadi istriku.
Menjadi Nyonya Jaya. Menjadi kakak ipar si Pandu, juga Syafa’at.
Sungguh. Kini, segalanya telah berubah. Berubah total. Tidak seperti dulu lagi.
Anak itu bukanlah monster.
Sori, cerita ni bukan kisah nyata....











.jpg)
0 comments:
Post a Comment