Thursday, July 19, 2012

Plunganisme

Hari ini hatiku berlumur kecewa. Benar-benar panen kekecewaan. Gelombang kepekaannya telah memaguti rasa sayang di ujung-ujung remang. Segalanya mulai berpendar nanar. Menguak gulita pada kedap kuil kebisuan. Sesungging seringai indah dari bibirmu yang tak bertabir. Mengurai jiwamu yang disekap fakir. Samar kudengar kekeh riangmu teruntai lepas. Menggelegar. Mengikik. Melolong. Aku mulai dibekap ngeri tak terperi. Merinding. Menggigil. Tercekat. Takut.

Aku hanya bisa tenggelam karam dalam pusaran kasih yang engkau tabur ke sudut-sudut laraku yang selama ini tersumbat oleh cadasnya sikap. Duhai sang Dinda. Kau candu aku dengan kemesraan penuh makna. Pada tiap untaian kata yang terkuak dari pijaran damai, seolah mengandung keindahan desah senggama hati.

Namun itu hanyalah desir kepalsuan, yang engkau tiupkan di telinga nuraniku. Kau pahat sedemikian rupa dengan  warna-warni pelangi di pucuk hari. Aduh, betapa manisnya durian yang runtuh ini. Betapa mungilnya kesungguhan niat terpatri pada roman wajah sayu itu. Ya Tuhan, inilah seribu tipu. Serupa selaksa Dasamuka. Barangkali.

Plung!!!

Satu-persatu jenak harap mulai berguguran. Berganti hamparan ragu berkibar malu. Galau. Resah. Kalut. Sungguh engkau telah merebus air mataku sementah-mentahnya. Hingga tak bersisa. Tak berderai. Dan tak sebening butiran embun surgawi lagi. Kacau meracau. Bala menggila.

Dinda. Sudahkah kau siapkan keranda jiwa untukku? Untuk Kandamu yang lemah hati ini. Tak sanggup meneriakkan murka. Tak mampu merobek-robek langit hingga berantakan tak bertata. Tak bisa menginjak-injak kebohongan demi kebohongan yang beranjak pada titian hari yang kita lalui. Ketika siang menjemput senja, dan malam mendulang sang pagi. Dengan sedikit gerimis.

Plung!!

Kata sayang memang tak bertulang. Hanya indah untuk dipandang. Dituang. Dikenang. Kemudian hilang tanpa genang. Sementara kelicikan datang bertahtakan berlian. Rupawan. Melenakan sekaligus mematikan. Adakah itu terpendam di jiwamu. Ada. Beserta bukti-buktinya. Juga saksi dan duduk perkaranya.

Ah, percuma rasanya memijat-mijat rindu yang menusuk sukma. Tak berarti rasanya mengumbar lembar-lembar sejarah. Tiada guna menyuguhkan maaf jika salah terus engkau sembah. Bodoh jangan diperlihatkan. Tak bertanggungjawab jangan disajikan.

Kanda bukanlah jaksa hingga tak perlu menuntut. Kanda bukanlah hantu hingga tak perlu engkau takuti. Kanda juga bukan seorang pengembara hingga tak butuh untuk menjelajahi jasadmu. Kanda ini manusia. Manusia biasa. Biasa disakiti. Biasa dipuji. Biasa dibenci. Biasa dikecewakan.

Plung!!
Aduuuhhh!! Siapa sih di dalam? Gantian!! Kebelet beol, nih!!
"Iya, iya!! Lagi cebok, nih!! Ini juga udah selesai, kok!!

Daun pintu kamar mandi berderit. Terbuka. Kanda keluar. Sambil tersenyum puas. Puas memuntahkan kepedihannya. Puas melampiaskan gelisahnya. Enteng. Lega. Dan plong.

Ngapain aja, sih di dalam? Lama amat?!!
Semedi!!!
Brengsek!!!

Malang, Ujung Februari 2005

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...