Awalnya
aku tak mengenalmu dekat. Mungkin karena engkau tidak berasal dari daerahku.
Mungkin pula karena engkau ditemukan tergeletak di pinggir jalan oleh seorang
budak yang hitam. Atau mungkin karena orang-orang menganggapmu telah mengganggu
tidur mereka. Entahlah, yang mana yang benar itu tidak penting lagi saat ini.
Yang aku
ingat, ibuku adalah orang yang pertama mengenalkan engkau kepadaku. Kepada
laki-laki yang biasa ini. Bahkan menurut ibu, engkau telah merasuk ke dalam
hatiku sejak aku bayi. Menjadi belahan hatiku, sejak saat itu.
Aku tahu.
Mendapatkan dirimu tidaklah mudah. Harus dengan cara kekerasan! Bahkan aku
harus menahan cemburu saat melihatmu mengapung, terhanyut, dan mengendap
bersama teman manismu. Meskipun aku tak jua terluka melihat keakraban kalian
setiap saat.
Memang.
Kasihmu tak sehitam kulitmu. Hidupmu ternyata tak hanya untukku. Namun, engkau berusaha
selalu ada di setiap jengkal hariku. Menemaniku di setiap tetes cerita sedih
dan gembira. Membantuku mengenal teman, sahabat, dan orang-orang hebat. Menolongku
mencicipi berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup.
Mampukah
aku mengalahkan kesetiaanmu? Mampukah aku membayar pengorbananmu? Sanggupkah
aku hidup tanpa dirimu?
“Om, ndang diseruput kopine. Selak adem, lho.”
”Oh,
kopiku. Jangan pernah kau tinggalkan diriku...”
”Ojo keakehan ngelamun, om. Ndang dibayar utang-utang kopine. Wes akeh, lho.”
”??????!!!!”
Sabtu 10
Sept. 2011 pukul 5.12 WIB
Di Kedai Empu Gondrong Coffee Malang












0 comments:
Post a Comment